Laporan Bacaan 3

Nama                           : Deka Safitri

Nim                             : 11901265

Kelas                           : PAI 4/D

Mata Kuliah                : Magang 1

Dosen Penganpu         : Farninda Aditya, M.Pd,

 

Laporan Bacaan

Nama Jurnal    : Pemikiran Sosiologi

Judul Jurnal     : Kultur Sekolah

Penulis             : Ariefa Efianingrum

Tahun Terbit    : 2019

 

                       

A.    Kultur Sekolah

Proses dan aliran perubahan sosial dalam masyarakat membawa implikasi besar dalam dunia pendidikan. Hal ini karena keberhasilan pengembangan sektor pendidikan diyakini sebagai salah satu penentu kemajuan suatu bangsa. Pendidikan juga membawa misi kebajikan dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Sebagaimana konsep pendidikan Taman siswa yang sistem digagas oleh Ki Hadjar Dewantara, bahwa pendidikan merupakan sarana perjuangan kebudayaan dan pembangunan masyarakat.

Wacana pertama adalah academic achievement discourses, sebagai wacana dominan yang lebih menekankan pada proses restrukturisasi. Sedangkan wacana yang kedua adalah wacana kultural yang lebih menekankan pada aspek rekonstruksi.

Pernyataan tersebut bermakna bahwa menekankan perbaikan pendidikan hanya pada proses restrukturisasi, tidak lagi memadai, mengingat adanya keyakinan bahwa sistem sosial dan sistem budaya menjadi medan dan kunci keberhasilan pendidikan. Kunci keberhasilan pendidikan seringkali justru terletak pada faktor-faktor yang tidak teramati seperti nilai-nilai budaya dan keyakinan.

Pendapat lain menyatakan bahwa rasional, justru mengingatkan kepada kebudayaan dapat mengubah suatu kita bahwa perubahan pada aspek keadaan chaos menjadi kosmos, tersebut tidak sepenuhnya berhasil mengubah suatu keadaan penuh tanpa dukungan faktor kultural. Kultur kekacauan menjadi keteraturan, dan sekolah merupakan faktor kunci yang mengubah suatu keadaan tanpa makna menentukanpencapaianprestasi menjadi jaringjaring makna yang akademik maupun nonakademik, dan penuh arti .

Maknanya bahwa kultur sekolah dan pimpinan sekolah memiliki peran simbolik dalam membentuk pola kultural dalam praktik kehidupan di sekolah.

Ketika para pengambil kebijakan dan reformis pendidikan lebih menekankan pada pentingnya struktur dan asesmen rasional, justru mengingatkan kepada kita bahwa perubahan pada aspek tersebut tidak sepenuhnya berhasil tanpa dukungan faktor kultural.

Seperti dikemukakan oleh Deal & Peterson dalam pernyataan berikut ini

Budaya sekolah merupakan jaringan tradisi dan ritual yang kompleks, yang telah dibangun dari waktu ke waktu oleh guru, siswa, orangtua, dan administrator yang bekerja sama dalam menangani krisis dan prestasi. Pola budaya sangat abadi, memiliki dampak yang kuat pada kinerja, dan membentuk bagaimana orang berpikir, bertindak, dan merasa.

Dalam perjalanannya, sekolah juga memiliki kebiasaan dan upacara-komunal untuk merayakan keberhasilan, untuk memberikan kesempatan selama transisi kolektif, dan untuk mengakui kontribusi masyarakat terhadap sekolah. Budaya sekolah juga meliputi simbol dan cerita yang mengkomunikasikan nilai-nilai inti, memperkuat misi, membangun komitmen, dan rasa kebersamaan.

Simbol adalah tanda lahiriyah nilai. Cerita merupakan representasi sejarah dan makna kelompok. Dalam budaya positif, fitur tersebut memperkuat proses pembelajaran, komitmen, dan motivasi, karena menjamin para anggota konsisten dengan visi sekolah.

Menurut Peterson , suatu budaya sekolah mempengaruhi cara orang berpikir, merasa, dan bertindak. Mampu memahami dan membentuk budaya adalah kunci keberhasilan sekolah dalam mempromosikan staf dan belajar siswa. Sedangkan menurut Willard Waller , sekolah memiliki budaya yang pasti tentang diri mereka sendiri.

B.     Implikasi Kultur Sekolah dalam

1.      Visi dan Nilai

Hickman & Silva mendeskripsikannya sebagai “A mental journey from the known to the unknown, creating the future from a montage of current facts, hopes, dreams, dangers, and opportunities”.

Berdasarkan pengertian tersebut, visi merupakan citra ideal dan unik tentang masa depan atau orientasi masa depan terhadap kondisi ideal yang dicita-citakan. Nilai, secara sosiologis/antropologis, dapat didefinisikan sebagai berikut: “A value is a conception, explicit or implicit, distinctive of an individual or characteristic of a group, of a desirable which influence the selection from available modes, means, and ends of action”.

2.      Upacara dan Perayaan

Upacara, tradisi, dan perayaan sekolah bermanfaat dalam membangun jaringan informal yang relevan dengan budaya.

3.      Sejarah dan Cerita

Sejarah dan cerita masa lalu penting dalam mengalirkan dan memancarkan energi budaya.

4.      Arsitektur dan Artefak

Sekolah biasanya memiliki simbol-simbol seperti: arsitektur, motto, kata-kata dan tindakan. Setiap sekolah memiliki lambang/logo sekolah, motto, lagu, dan seragam sekolah yang mencerminkan visi dan misi sekolah. Pemanfaatan lahan pada area sekolah seperti: dinding kelas, selasar sekolah, dan lorong sekolah untuk memampangkan artefak fisik, efektif dalam menumbuhkan nilai dan spirit utama sekolah, misalnya melalui poster, majalah dinding, spanduk, dan pesan inspiratif lainnya. Selanjutnya disajikan sejumlah fakta yang menunjukkan bahwa kultur sekolah memiliki implikasi terhadap upaya perbaikan sekolah, seperti dikemukakan Deal & Peterson . Namun demikian, dalam praktiknya kultur sekolah seringkali justru terlewatkan dalam upaya perbaikan sekolah antara lain:

a.       Culture fosters school effectiveness and productivity .

Guru dapat berhasil dalam memfokuskan budaya pada produktivitas, kinerja, dan upaya perbaikan.

Budaya membantu para guru dalam mengatasi ketidakpastian pekerjaan mereka dengan memberikan fokus pada kolegialitas. Hal ini penting untuk memberikan motivasi sosial dalam suatu pekerjaan yang menuntut mereka siap mengajar tigapuluh anak di ruang kelas. Budaya mendorong, memberi sanksi, dan memberi penghargaan pada tugas profesional untuk meningkatkan ketrampilan mereka.

b.      Culture improves collegial and collaborative activities that fosters better communication and problem solving practices .

Di sekolah, budaya menghargai kolegialitas dan kolaborasi. Terdapat iklim yang lebih baik untuk mempertukarkan ide-ide sosial dan profesional, peningkatan dan penyebaran praktik-praktik yang efektif, dan meluas pada pemecahan masalah profesional.

c.       Culture fosters successful change and improvement efforts .

Budaya beracun mendukung mediokritas dan sikap apatis, yang tidak mungkin mendorong inovasi. Sebaliknya, di sekolah-sekolah yang menganut norma-norma kinerja perubahan, para staf dengan senang hati bereksperimen dengan menggunakan pendekatan baru, menemukan praktik-praktik inovatif untuk memecahkan masalah, dan memperkuat visi pembelajaran yang berfokus pada perbaikan sekolah.

C.     Aneka praktik pengembangan kultur sekolah

1.      Prestasi Akademik

Di sekolah yang menghargai prestasi akademik, terjadi proses penciptaan iklim akademik yang bertujuan untuk mencapai prestasi akademik.

2.      Non-Akademik

Prestasi non-akademik juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang menghargai prestasi olah-raga, seni, dan ketrampilan lainnya. Nilai-nilai kreativitas dan demokrasi juga dapat dikembangkan melalui kultur sekolah yang memberi ruang yang memadai, sehingga siswa memiliki keleluasaan untuk berpartisipasi, berkreasi, berpikir secara kritis, berperilaku humanis.

3.      Karakter

Karakter berkaitan dengan moral dan berkonotasi positif. Pendidikan untuk pembangunan karakter pada dasarnya mencakup pengembangan substansi, proses dan suasana atau lingkungan yang menggugah, mendorong, dan memudahkan seseorang mengembangkan kebiasaan yang baik.

4.      Kelestarian Lingkungan Hidup

Sejumlah sekolah di berbagai level mendapatkan penghargaan dan predikat sebagai sekolah adiwiyata, yaitu sekolah menjaga kelestarian lingkungan hidup. Penghargaan tersebut perlu diapresiasi dalam menstimulasi terwujudnya sekolah berwawasan lingkungan. Namun demikian, predikat sekolah adiwiyata tidak muncul dengan sendirinya tanpa diupayakan melalui pengembangan kultur sekolah ramah lingkungan.

Sejumlah sekolah yang fokus dalam pengembangan sekolah hijau memiliki visi-misi yang berorientasi pada kehidupan dan kondisi lingkungan masa depan yang lebih baik dan berkelanjutan. Untuk mewujudkannya, memerlukan komitmen bersama seluruh warga sekolah dalam pengembangan kultur sekolah yang ramah lingkungan. Demikian tadi sejumlah contoh kultur sekolah yang dapat dikembangkan oleh tiap-tiap sekolah. Masih terbuka bagi sejumlah alternatif lain sesuai karakteristik dan kreativitas masing-masing sekolah. Program sekolah dalam menyelenggarakan pendidikan dan mengembangkan kultur sekolah dapat bervariasi karena tidakada model tunggal.

Setiap sekolah memiliki tujuan umum pendidikan yang relatifsama , namun sebagai subkultur, setiap sekolah dapat mengembangkan kultur sekolah yang khas sesuai dengan potensi yang dimiliki oleh institusi sekolah.

Komentar