Laporan Bacaan 4
Nama
: Deka Safitri
Nim
: 11901265
Kelas
: PAI 4/D
Mata Kuliah
: Magang 1
Dosen Penganpu
: Farninda Aditya, M.Pd,
Laporan
Bacaan
Nama Jurnal : Tarbawi, Jurnal Pendidikan Islam
Judul Jurnal
: Memahami Karakteristik Peserta Didik
dalam Proses Pembelajaran
Penulis
: Janawi’
Tahun Terbit
: 2019
1. Hakekat
Anak Didik
Undang-Undang
Sistem Pendidkan Nasional ini menjadi barometer keberhasilan pembelajaran dan
dunia pendidikan nasional. Artinya, sistem pendidikan nasional bertanggung
jawab dalam menentukan masa depan anak-anak. Masa depan mereka akan menentukan
masa depan bangsa. Untuk itu, memahami anak didik perlu dilakukan secara
komprehensif. Dalam pendekatan pembelajara modern, anak bukanlah obyek
pembelajaran. Anak menjadi faktor penting pembelajaran dan sekaligus menjadi
subyek pembelajaran. Anak mengikuti pembelajaran dan sekaligus berpartisipasi
langsung dalam proses pembelajaran. Kerangka ideal tersebut tercapai apabila
pembelajaran dilakukan oleh tenaga pendidik profesional.
Profesi
atau jabatan guru “guru yang baik” sebagai pendidik di sekolah sebenarnya tidak
dapat dipandang ringan, karena tugas pendidik menyangkut berbagai aspek
kehidupan serta menuntut tanggung jawab moral yang berat. Raharjo menyatakan
bahwa guru sebagai profesi memiliki karakteristik profesional minimum dan
berdasarkan sintesis temuan-temuan penelitian.
Sebagaimana
telah diungkapkan sebelumnya bahwa peserta didik memiliki karakteristik serdiri.
Ia berbeda antara satu dan lainnya. Peserta didik kembar identikpun memiliki
perbedaan, meskipun ia memiliki banyak kesamaan. Untuk mengetahui karakteristik
peserta didik ini, pendidik harus memahami dan menguasai teori-teori psikologi
seperti psikologi belajar, psikologi pendidikan, psikologi perkembangan,
psikologi kepribadian, dan berbagai pendekatan lain yang dapat memaksimalkan
perhatian terhadap peserta didik. Salah satu tugas yang perlu dilakukan guru
sebelum melaksanakan pembelajaran adalah mengetahui karakteristik anak
didiknya. Ini penting dilakukan untuk memudahkan guru melaksanakan
pembelajaran.
Perkembangan
selanjutnya, guru dapat merencanakan sekenario pembelajaran yang tepat sesuai
dengan kebutuhan anak. Bila kondisi tersebut terjadi, pelaksanaan proses
pembelajaran menjadi lebih efektif dan efisien. Efektif dalam mencapai tujuan
pembelajaran dengan baik, sedangkan efiesien dalam mencapai tujuan pembelajaran
dalam waktu yang relatif singkat.
Bila
kita amati, pembahasan pembelajaran selama ini paling tidak terkonsentrasi pada
dua kerangka pandangan pembelajaran, yaitu konstruktivisme dan behaviorisme.
Kedua pandangan tersebut berbeda pada sudut pangan, sehingga produk
pandanganpun mengalami deferensiasi. Menurut Arends & Kilcher, pembelajaran
selama ini banyak berorientasi pada paradigma behaviorisme. Behaviorisme lebih
memfokuskan pada terjadinya perubahan perilaku yang secara kasat dapat diamati.
Pandangan behaviorisme menganggap bahwa pengetahuan peserta didik seolah-olah sebagai
dari guru. Secara akumulatif, pengetahuan yang dimiliki guru ditransfer menjadi
sesuatu yang sama dengan pengetahuan yang dimiliki anak .
Dengan
demikian, indikator utama keberhasilan poses pembelajaran anak pada perspektif
ini adalah behavioral changing. Perubahan-perubahan yang terjadi pada anak
dapat diobservasi oleh guru secara berkesinambungan. Namun beberapa kelemahan
mendasar pada pandangan ini di antaranya, guru agak kesulitan dalam memahami
emosi, penalaran, pemecahan masalah, dan kemampuan berfikir kritis. Perubahan
yang mudah diamati merupakan perubahan yang ditampakkan dalam perbuatan .
Sedangkan perubahan yang bersifat psikologis lebih sulit diamati. Di samping
itu, pandangan behaviorisme lebih mementingkan keseragaman di kelas.
2. Peran
Guru dalam Memahami Karakteristik Peserta Didik
Tenaga
pendidik memegang peran penting dalam proses pembelajaran di kelas dan bahkan
dalam meningkatkan kualitas Pendidikan di sebuah sekolah, daerah, dan nasional.
Guru sebagai komponen kunci dalam proses pendidik dituntut untuk mampu
menyelenggarakan proses pembelajaran yang mendidik. Peran besar inilah yang
dituntut dari guru, khususnya dalam pembentukan karakter anak maupun karakter
bangsa.
Hal-hal
penting yang perlu diperhatikan dalam memahami karakteristik anak didik, yaitu:
a. a. Membangun
komunikasi verbal
Komunikasi
verbal perlu dilakukan pada setiap kesempatan dalam proses pembelajaran baik di
dalam kelas maupun di luar kelas. Komunikasi verbal diakukan dengan melibatkan
peserta didik secara langsung. Pelibatan peserta didik dilakuka dengan
mengajukan pertanyaan-pertanyaan interaktif yang beragam, namun
pertanyaan-pertanyaan tersebut masih dalam lingkup partisipasi peserta didik
dalam proses pembelajaran.
b. b. Menjadi
figur yang baik
Figur
yang baik akan menjadi teladan bagi peserta didik. Ia memiliki beberapa
kriteria seperti rasa optimis, komunikatif, memiliki charisma, dan perduli
dengan lingkungan sekitar, termasuk dunia anak-anak. Beberapa kriteria tersebut
menjadi salah satu unsur penting dalam memahami karakter peserta didik.
c. c. Berhati-hati
dalam menyimpulkan karakter peserta didik
Pendidik
perlu bersikap hati-hati dalam mengambilkan sebuah kesimpulan, apalagi
kesimpulan tersebut mengarah pada upaya memahami karakter peserta didik.
d. d. Mengenal
tanda-tanda keanehan peserta didik
Tanda-tandan yang
dimaksud disini adalah tanda fisik maupun non fisik.
e. e. Bersifat
terbuka
Bersikap
terbuka menjadi sikap penting dimiliki oleh pendidik. Bersikap terbuka pada
peserta didik berarti memberikan peluang secara luas untuk memahami karakter
anak. Dengan sikap terbuka, pada umumnya anak didik akan bersikap terbuka pada
pendidik.
3. Indikator
Penting Karakteristik Peserta Didik
Sebagaimana
telah diulas sebelumnya, bahwa peserta didik memiliki karakteristik tersendiri.
Potensi yang dimiliki peserta didik dapat dikembangkan apabila tenaga pendidik
dapat memahami perbedaan-perbedaan tersebut. Walaupun Dalam sistem Pendidikan
nasional, sistem klasikal masih menjadi ciri utama, namun tuntutan untuk
memahami karakter dan perbedan potensi anak semakin dituntut.
Proses
pembelajaran akan berlangsung dengan baik apabila guru mampu memahami karakter
anak dengan dengan baik. Karakter penting yang perlu dipahami dalam proses pembelajaran
diantaranya adalah:
a. a. Mengidentifikasi karakter fisik dan non
fisik anak didik di kelas.
Anak
merupakan individu yang masih dalam proses pertumbuhan dan perkembangan.
Pertumbuhan mengarah pada fisik, sedangkan perkembangan mengacu pada
fungsi-fungsi organ dan non fisik.
Karakter
fisik merupakan sesuatu ciri yang mudah diamati, seperti ciri-ciri fisik .
Dalam proses pembelajaran, tenaga pendidik tidak boleh melalaikan unsur
tersebut. Karena unsur itu akan berimplikasi pada pengelolaan kelas yang pada
akhirnya berdampak pada pencapaian tujuan belajar. Pertumbuhan dan perkembangan
anak tidak selalu linear. Pada beberapa kasus, pertumbuhan dan perkembangan
mengalami keterlambatan atau ketidakseimbangan, seperti sosio emosional anak.
b. b. Mengidentifikasi
karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya.
Anak
memiliki karakteristik tersendiri dalam belajar. Karakteristik ini tidak lepas
dari beberapa hal seperti bakat, minat, lingkungan anak, gaya belajar,
intlegensia anak, dan lainnya.
c. c. Memastikan semua peserta didik
mendapatkan kesempatan yang sama untuk berpartisipasi aktif dalam kegiatan
pembelajaran.
Dalam
paradigma Pendidikan modern, guru bukan lah «pengajar», tetapi guru adalah
fasilitator dan motivator. Pendidik profesional harus mampu memberi peran besar
sebagai fasilitator. Tenaga pendidik memberikan kesempatan yang sama kepada
anak didik, agar anak didik dapat berpartisipasi secara maksimal dalam proses
pembelajaran.
d. d. Mengatur kelas untuk memberikan
kesempatan belajar yang sama pada semua peserta didik dengan kelainan fisik dan
kemampuan belajar yang berbeda.
4. Mengembangkan
Karakteristik Pembelajaran yang Mendidik
Para
praktisi pembelajaran terus berupaya mengembangkan model-model pembelajaran
yang mampu mengoptimalkan partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran.
Sebagaimana disebutkan di awal, indikator karakteristik anak dapat ditinjau
dari beberapa factor. Faktor utama dapat dilakukan melalui;
Pertama,
mengidentifikasi karakteristik belajar setiap peserta didik di kelasnya.
Walaupun sistem pembelajaran kita masih menganut sistem klasikal, namun
karakteristik perbedaan dan persamaan individual penting diperhatikan oleh
guru. Identifikasi tidak hanya tertumpu pada aspek fisik, seperti berat badan,
jenis kelamin, kelainan fisik, namun identifikasi nonfisik tidak dapat
diabaikan. Karakteristik nonfisik dapat berupa mental, emosional,
potensi/bakat, termasuk disabilitas mental.
Kedua,
semua peserta didik mendapatkan kesempatan yang sama berpartisipasi aktif dalam
kegiatan pembelajaran. Kesempatan diberikan kepada semua peserta dalam proses
pembelajaran. Guru perlu menjamin untuk tidak adanya deskriminasi perlakuan
dalam proses pembelajaran. Untuk mewujudkan ini, guru perlu menggunakan
berbagai pendekatan, metode, dan model-model
Ketiga,
mengelola kelas. Penempatan kursi akan lebih berarti bagi terciptana
pembelajaran yang baik. Kelas perlu mempertimbangkan jumlah peserta didik,
materi, dan metode yang akan digunakan. Hendaknya, format kursi danlam ruangan
dapat dirubah. Bahkan pembelajaran tidak selamanya dilakukan dalam kelas.
Penempatan kursi dapat berpengaruh pada partisipasi belajar anak. Pengaturan
kursi semakin dibutuhkan apabila ada peserta didik mengalami kelainan fisik.
Hal-hal yang seperti ini kurang diperhatikan dalam proses pembelajaran.
Padahal, prinsip pembelajaran modern adalah memberikan kesempatan yang sama
bagi semua peserta didik untuk mengikuti proses pembelajaran dengan baik.
Keempat,
mengetahui penyebab penyimpangan perilaku peserta didik. Guru tidak hanya
menyampaikan pembelajaran yang bersifat kognitif. Guru perlu memperhatikan
kelainan perilaku anak, guru juga harus bertindak sebagai konselor, penyimpangan
perilaku tidak dapat dibiarkan, penyimpangan perilaku perlu diobservasi dan
didiagnostik, serta konseling.
Kelima,
membantu mengembangkan potensi dan mengatasi kekurangan peserta didik. Potensi
anak didik dapat dilakukan dengan melakukan berbagai tes kepribadian dan tes
bakat minat. Namun persoalan besar dalam system pembelajaran kasikal, potensi,
bakat dan minat kurang dieksplorasi sebagai penciri karakteristik anak.
Keenam,
memperhatikan peserta didik dengan kelemahan fisik tertentu. Kelemahan fisik
dapat diantisipasi melalu pengaturan kelas yang beorientasi pada kebutuhan
anak. Bila ini diabaikan, maka anak yang mengalami kelainan fisik sulit
mengikuti aktivitas pembelajaran. Dampaknya, peserta didik tersebut
termarginalkan . Banyak kejadian dalam dunia penddikan, sikap malu, takut, dan
merasa tersisih, diakibatkan oleh perilaku teman kelas.
Kenam,
faktor diatas menjadi signfikan untuk diperhatikan guru. Di samping itu, Perubahan
paradigma pembelajaran dijadikan sebagai langkah inovatif. Perubahan paradigma
dilakukan seiring dengan perubahan era dan kemajuan teknologi. Perubahan
paradigma dikonstruksikan sebagai upaya melakukan perubahan proses
pembelajaran.
Komentar
Posting Komentar